Bank NTB Syariah Gelar BOD Teaching Literasi Keuangan Syariah di STKIP Tamsis

 


Bima, Suaraberadab.com – Bank NTB Syariah pusat menggelar sosialisasi bertajuk “BOD Teaching Literasi Keuangan Syariah” di kampus STKIP Taman Siswa Bima, Senin (7/2/22) pagi. Kegiatan yang berlangsung di auditorium Sudirman tersebut diikuti sedikitnya 250 mahasiswa dan dosen setempat.
Pada acara tersebut, Bank NTB Syariah menjalin kerjasama dengan melakukan penandatanganan MOU dengan Ketua Yayasan Pendidikan Taman Siswa Bima. Sebagai langkah awal, sejumlah peserta langsung mendapatkan rekening dan kartu ATM Bank NTB Syariah secara cuma-cuma.
Kegiatan yang dipandu langsung Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr. Ibnu Khaldun Sudirman, MSi tersebut berlangsung seru. Mahasiswa yang hadir cukup antusias mengikuti sosialisasi dengan memberikan beragam pertanyaan terhadap pihak Bank NTB Syariah. Bahkan di ujung acara, pihak bank memberikan doorprize berupa tabungan dengan total Rp 600 ribu kepada tiga orang mahasiswa yang beruntung mengisi quiz yang disiapkan.
Dalam kesempatan itu, Ketua STKIP Tamsis, Dr. Ibnu Khaldun Sudirman, MSi menyampaikan, kampus setempat selalu welcome terhadap kegiatan-kegiatan positif seperti itu. Hal ini terbukti dari antusiasnya mahasiswa yang ingin mengikuti kegiatan yang digelar bank milik masyarakat NTB tersebut.

Bacaan Lainnya

“Ini pekan pertama liburan mahasiswa dan dosen, tapi mereka tetap semangat menjemput kegiatan Bank NTB Syariah. Belakangan ini memang kita selalu menghadirkan tamu-tamu penting untuk terus memberikan perkembangan positif di Tamsis dengan harapan akan membangun dan mengubah cara berpikir kita ke arah yang baik dan produktif,” tuturnya.

Diakui, meski Tamsis merupakan sekolah tinggi keguruan tapi kampus tersebut punya visi Beradab dengan keunggulan kewirausahaan. Hal ini tentu sangat relevan dengan program yang digagas Bank NTB Syariah serta Bank Indonesia yang pada pekan lalu juga ikut memberikan sosialisasi di kampus setempat.

“Kita punya empat kata kunci yakni beradab, berwirausaha, iman taqwa dan iptek. Empat kata kunci ini harus menjadi energi, harus diwujudkan sampai pada tahun 2045 seperti apa capaiannya,” ujar Dr. Ibnu.

Anggota tim Ahli DPR RI tahun 2013 ini memaparkan sebaran alumni di kampus setempat yang juga terserap di bidang perbankan. Dr. Ibnu mengungkap bahwa sebanyak 5 persen dari lulusan yang sudah mencapai 6000 alumni sudah masuk ke dunia perbankan.

“Dengan intensitas kedatangan pihak Bank, seperti sebelumnya ada dari BI, tentu ada persepsi lain untuk mahasiswa karena capaian lulusan nanti tidak hanya bekerja pada lingkungan pendidikan tapi juga pada banyak aspek. Salah satunya perbankan. Dengan kita menghadirkan pihak-pihak bank ini, kita harus membangun dan mengubah cara berpikir kita agar kita betul-betul siap dalam bekerja di manapun,” tuturnya, disambut riuh tepuk tangan audiens.
Untuk itu, putra sulung pendiri Yayasan Taman Siswa ini berharap mahasiswa harus punya kematangan berfikir dan kearifan dalam bertindak bila ingin menjemput masa depan di tahun 2045.

“Kita beruntung karena kedatangan Bank NTB Syariah yang awalnya adalah bank pembanguan NTB namun di tahun 2018 berubah status dari bank konvensional menjadi bank syariah. Bank NTB Syariah adalah satu dari dua bank milik daerah di Indonesia yang berani mengubah status dari konvensional ke syariah,” pujinya.

Ditambahkan, rilis terbaru 26 Januari tahun 2022, Bank NTB Syariah mengalami perkembangan sangat signifikan dengan pertumbuhan 8,05 persen dan mengola Rp 900 M dari dana pihak ketiga. Untuk penguatan syariah tentunya harus dekat dengan pasar kerja yang konsen di pengembangan keislaman agar benar-benar memperkuat karakter keislaman.

“Bank ini belum genap 10 tahun setelah setelah bermetamorfosis menjadi syariah, tapi perkembangannya sangat signifikan. Pimpinannya juga sudah punya pengalaman selama lebih dari 40 tahun konsen di perbankan,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Dana dan Jasa Bank NTB Syariah pusat, H. Nurul Hadi dalam materi sosialisasinya menyampaikan banyak hal. Mulai dari apa itu Bank NTB Syariah, perbedaannya dengan Bank konvensional hingga cara pembagian laba.

“Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin telah mengatur kegiatan sosial kita sehari-hari. Termasuk perbankan. Khusus dalam hal ini ada kegelisahan umat muslim tentang riba di perbankan. Ternyata ada prinsip muamalah yang diatur dalam islam. Karena itu muncul model bank syariah. Di Indonesia Bank Muamalat yang pertama kali ada. Seiring waktu, ada banyak bank yang mengikuti. Tapi bank pembangunan daerah yang mengkonversi langsung hanya ada dua yaitu Aceh dan NTB,” urainya.

Kenapa harus syariah dan apakah bank syariah itu serta apa perbedaan antara Bank konvensional dan syariah? H. Nurul Hadi memaparkan, jika riba secara umum merupakan adanya tambahan dari utang piutang atau ada kelebihan nilai barang yang diberikan dari nilai barang yang disimpan. Ada riba jual beli dan hutang piutang.

“Banyak ayat dalam al quran melarang riba. Tegas dikatakan Allah dan rasul akan memerangi riba. Secara kelembagaan tidak ada satupun organisasi lembaga yang menyatakan bank konvensional itu bukan riba. Semua sependapat dengan itu. Kecuali ada pandangan personal lain. Terutama sebagai muslim, kita harus tanamkan dalam hati kita untuk tidak melaksanakan riba. Baik perbankan maupun non perbankan,” tegasnya.

Dijelaskan, bank syariah adalah bank yang menjalankan usahanya berdasarkan syariah. Negara memberikan mandat kepada dewan pengawas syariah yang merupakan organ untuk menyatakan produk bank ini sesuai prinsip syariah atau tidak.

“Kita diawasi juga oleh OJK serta dewan pengawas syariah dan pengawas syariah nasional. Pengawas Syariah ini diisi oleh ulama yang sangat kompeten dan mumpuni. Sehingga produk yang dihasilkan bank syariah diyakini sudah sesuai kaedah,” jelas H. Hadi.

Sementara perbedaan syariah dan konvensional, dari sisi landasannya, konvensional berdasarkan hukum positif yakni mengacu pada UU perbankan saja. Sedangkan Bank Syariah juga punya landasan al quran, hadis dan ijtima ulama sebagai landasan selain UU perbankan. Orientasinya, kegiatan Bank konvensional hanya keuntungan meski bank tersebut sakit, tetap harus membayar bunga sesuai kesepakatan awal.

“Kalau syariah untuk dunia akhirat. Kita menjaga muamalah agar sesuai prinsip syariah. Hubungan dengan nasabah sebagai mitra kerjasama dan ada hubungan baik. Bank syariah bisa dipakai semua kalangan, bisa menggunakan produk syariah dengan usaha yang halal. Karena ada kerjasama yang harus dihindari. Seperti kerjasama pembangunan pabrik miras itu tidak boleh karena haram. Bahkan pabrik tembakau saja tidak bisa,” tegasnya.
Dari sisi keuntungan, Bank syariah ditentukan dengan misbah bagi hasil. Seperti 30 nasabah dan 70 bank. Di akhir bulan akan diliat berapa keuntungan bank. Keuntungan bank dan nasabah akan dibagikan ke seluruh penabung, deposito dan giro dengan proporsional.

“Jika bulan ini nasabah mendapatkan Rp 100 ribu, bulan depan bisa kurang bisa juga lebih tergantung pendapatan bank. Itu bedanya dengan bank konvensional, mereka mau banknya sakit tetap dapat sesuai kesepakatan awal tidak kurang tidak juga lebih,” terangnya.

Dikatakan, Bank NTB sudah lama berdiri sejak tahun 1964. Namun mulai konversi sejak September 2018. Sejak dikonversi, perkembangannya luar biasa. Indikatornya, saat konversi aset Bank NTB sekitar Rp 7 triliun. Sekarang sudah menembus angka Rp 11 triliun.

“Dana masyarakat yang dulunya hanya Rp 4 triliun, kini sudah Rp 9 triliun. Apa yang dilakukan oleh bank konvensional itu sama dengan yang dilakukan syariah. Seperti pengembangan mobile banking dan sebagainya. Bahkan engine kita dinobatkan sebagai mobile banking terbaik se Indonesia. Ini sudah terhubung ke dompet digital yang terkoneksi dengan ovo, virtual akun dan sebagainya,” tuturnya.

“Tidak ada alasan kita untuk tidak menggunakan bank NTB Syariah, karena semuanya sudah diakomodir dalam Bank ini. Dan yang paling penting, bank ini adalah milik masyarakat NTB. Jadi keuntungannya kembali ke masyarakat NTB,” tutupnya.

Gambar (dok): Penyerahan Cinderamata

Pada kegiatan tersebut juga diselipkan acara penyerahan plakat oleh Direktur Dana Jasa NTB Syariah kepada pihak kampus STKIP Tamsis usai penandatanganan nota kesepahaman. Selain itu, bank NTB Syariah juga menyerahkan bingkisan berupa satu unit laptop dan kamera DSLR untuk kebutuhan publikasi di kampus Tamsis. Sementara STKIP Tamsis juga menyerahkan cindera mata berupa kerajinan tangan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Terompet Tembe Nggoli. (Edo*)

Pos terkait